Minggu, 22 Juli 2012

TEKNIK BUDIDAYA IKAN MAS

TEKNIK BUDIDAYA IKAN MAS 




1. Pendahuluan
Produksi ikan mas merupakan produksi terbesar di wilayah Jawa Barat untuk hasil budidaya perikanan terutama dikawasan Cirata dan Jatiluhur, dimana untuk budidaya ikan mas di kawasan tersebut sangat  cocok untuk budidaya dan produksi besar besaran untuk ikan mas. Selain dikawasan bendungan, ikan mas bisa juga dibudidayakan di bantaran sungai, air deras (running water), Kolam tanah dan kolam tembok. Seperti yang lainnya budidaya ikan mas terbagi kedalam 3 fase budidaya yaitu pembenihan, pendederan dan pembesaran.
1.     2.  Pembenihan
Hal yang paling penting dalam pembenihan adalah dalam hal pemeliharaan induk dan seleksi induk. Dibawah ini paparan mengenai pemeliharaan dan seleksi induk
a.       Pemeliharaan Induk
§  Untuk Jantan dan betina dipelihara terpisah
§  Umur dan bobot     : 1.5 – 2 tahun  dengan bobot diatas 2Kg untuk Betina
                                                : 8 Bulan dengan bobot jantan diatas 0.5 Kg untuk Jantan
§  Media yang bisa dipakai adalah kolam air tenang dan kolam air deras
§  Untuk pakan menggunakan pellet degan kadar protein 28-30%
§  Dosis pemberikan pakan adalah 3% dari bobot tubuh
§  Untuk pemulihan induk betina 2-3 bulan dan untuk jantan 1 bulan
b.      Selexsi Induk
§  Induk harus sesuai deengan standar baik berat maupun umur
§  Tidak sekerabat
§  Jantan yang siap pijah bila distriping keluar sperma putih, namun dalam pemijitan haruslah hati hati jangan sampai sperma yang di keluarkan terlalu banyak yang berakibat pada saat pembuahan persedian sperma berkurang
§  Untuk betina perut buncit bila dipijit terasa lunak
§  Genital kemerahan dan agak membengkak untuk betina
§  Pergerakan lamban untuk betina dikarnakan sedang mengandung telur yang banyak.
Untuk pemijahan ikan mas terbagi kedalam 2 teknik diantaranya secara alami dan buatan.
a.       3. Pemijahan alami
Pemijahan secara alami dilakukan bisa dimedia bak ataupun di kolam tanah, dimana kita sediakan kakaban baik itu media bak maupun kolam tanah. Untuk media kolam tanah biasa menggunakan hapa berukuran panjang 6 meter dan lebar 2 meter dimana induk jantan dan betina disatukan dalam hapa yang telah terisi kakaban. Untuk perbanding banyaknya indukan biasanya 1:5 atau 6 dimana betina 1 jantan nya 5 atau 6 ekor, pemijahan/kawin biasa pada malam hari, dan keesokan harinya telur sudah menempel pada kakaban. Untuk tahap selanjutnya adalah pengangkatan induk baik jantan maupun betina diangkat dan dipindahkan pada media kolam tempat pemeliharaan induk.
b.      4. Pemijahan buatan
Pemijahan menggunakan hormon adalah pemijahan secara buatan dimana induk betina disuntik dengan hormone ovaprim dengan dosis 1kg menggunakan hormone 0,5ml dengan 2 kali penyuntikan dimana penyuntikan pertama ½ setelah 8 jam penyuntikan dilakukan 1/3 nya.
Setelah telur ada yang keluar dari indukan betina saat itulah dilakukan striping atau pengurutan dimana telur yang keluar diaduk dengan sperma jantan yang telah di campur dengan NaCl. Telur yang telah telah diaduk dengan sperma lalu di tebar pada kakaban yang telah di letakan pada media bak atupun media kolam.    
2.       5. Pendederan
Pendederan biasa dilakukan pada media kolam air tenang dimana sebelumnya kolam yang akan dipakai sudah melalui pemupukan dan pengapuran. Ketinggian air pada pase pendederan adalah 40-70cm. untuk penggunaan media air tenang selain di kolam tanah bisa juga disawah yang belum ditanami padi atau pun padi yang baru tanam. Ada hal yang harus diperhatikan pada persiapan kolam atau sawah dimana kondisi kolam haruslah tidak bocor dan sudah menggunakan kamalir atau parit yang diujungnya telah tersedia kobakan supaya memudahkan pada saat pemanenan. Ukuran yang dihasilkan pada masa pendederan biasanya antara 2-3 cm sampai dengan 4-5 cm.

                 Kolam Tanah                                                     Kolam Minapadi                
3.      6.Pembesaran.
Untuk pembesaran media yang dipakai biasanya adalah media kolam jaring apung,  kolam air deras keramba di sungai deras. Media yang menggunakan jaring terapung dengan tebar ukuran berat benih 10 gram untuk kapasitas tebar 100 ekor/m3 dengan lama pemeliharaan 3 bulan dengan pemberiat pellet 3-4% dari bobot tubuh, sedangkan pada media kolam air deras dengan tebar ukuran berat benih 20-30 gram/ekor untuk kapasitas tebar 100 ekor/m3 dengan lama pemeliharaan 4 bulan. 

                                     Kolam Jaring Apung

Melihat hal tersebut diatas ada perbedaan percepatan pertumbuhan antara pemeliharaan pembesaran di jarring terapung dengan pemeliharaan di kolam air deras, dimana pembesaran di jaring terapung lebih cepat besar itu dikarnakan suhu dan kadar oksigen dalam air relative stabil dan menunjang untuk percepatan pertumbuhan ikan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar